Kota Pontianak 20 - 23ºC
Kota Singkawang 22 - 25ºC
Kab. Ketapang 25 - 27ºC
Kab. Pontianak 22 - 25ºC
Angin Puting Beliung
Lokasi : Kab. Ketapang
Waktu : 2009-11-30 09:25:11Banjir
Lokasi : Kab. Sambas
Waktu : 0000-00-00 00:00:00
user
password
WASPADA DIARE DAN DBD

KEPALA Dinas Kesehatan Kalimantan Barat, HM Subuh, mengimbau agar warga tetap berwaspada. Sebab, musim kemarau tahun ini diprediksi akan berlangsung lebih lama sehingga rentan memancing munculnya berbagai jenis penyakit terutama diare dan demam berdarah. Selain itu, kabut asap pun masih menyelimuti kota dan membuat udara menjadi tidak sehat.“Ancaman El Nino harus tetap kita waspadai. Diperkirakan akan ada kemarau panjang sampai Desember,” katanya kemarin. Terkait dengan ini, gubernur menurutnya sudah menyurati bupati dan wali kota untuk ikut menggerakkan kewaspadaan di daerah masing-masing. Apalagi Lebaran tak lama lagi akan tiba. Setiap Lebaran, ada kecenderungan kasus diare meningkat.

Menurut beberapa sumber, El Nino merupakan fenomena alam dan bukan badai. Secara ilmiah diartikan dengan meningkatnya suhu muka laut di sekitar Pasifik Tengah dan Timur sepanjang ekuator dan secara fisik El Nino tidak dapat dilihat. Fenomena cuaca skala global itu mempengaruhi kondisi iklim di berbagai tempat.
El Nino mengakibatkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia berkurang, tingkat berkurangnya curah hujan ini sangat tergantung dari intensitas El Nino tersebut. Namun karena posisi geografis Indonesia yang dikenal sebagai benua maritim, maka tidak seluruh wilayah Indonesia dipengaruhi oleh fenomena El Nino. El Nino pernah menimbulkan kekeringan panjang di Indonesia. Curah hujan berkurang dan keadaan bertambah menjadi lebih buruk dengan meluasnya kebakaran hutan dan asap yang ditimbulkannya.

Adanya Elnino, tambah Subuh, juga rentan meningkatkan kasus demam berdarah. “Soalnya, hujan intensitasnya kecil dan jarang sehingga nyamuk dan bibit penyakit lain sempat berkembang,” ujar dia. Terkait dengan wabah DBD ini, pihaknya terus melakukan koordinasi dengan Pemkot Pontianak. Sebab, jumlah kasus terbesar berada di kota ini.“Sejak Januari ada 2.200 kasus dan 45 orang meninggal,” katanya. Kota Pontianak juga merupakan pusat aktivitas dan transportasi warga di Kalbar sehingga ada kemungkinan dapat menularkan ke daerah lain. Menurut Subuh, kegiatan pemberantasan sarang nyamuk di Kota Pontianak harus benar-benar terkoordinasi dengan baik oleh wali kota jika kita tidak ingin DBD semakin mewabah.(rnl)